TANYA KENAPA

Anda pasti sangat akrab dengan iklan sebuah produk di televisi yang mengucapkan kalimat ini “Tanya kenapa?” entah kenapa, lagi-lagi pertanyaan kenapa, tiba-tiba di benak saya dipenuhi dengan kata-kata KENAPA. Sebuah pertanyaan yang harus dijawab berupa alasan, biasanya kata pembuka untuk jawaban pertanyaan ini adalah KARENA. Kenapa eh kenapa? Karena ya karena!

Saya jadi ingat pesan seorang guru agama, janganlah kamu sekali-kali mempertanyakan tentang Dzat yang telah menciptakan mu, tapi tanyalah tentang ciptaan-Nya. Beberapa waktu yang lalu saya pernah bertanya pada diri saya sendiri, sebuah pertanyaan, lagi-lagi diawali dengan kata kenapa. Kenapa sih Allah SWT. tidak menampakan diri-Nya ke manusia biar manusia percaya kalau Dia memang ada? Gampang kan?! Ketika saya mengingat kembali pertanyaan ini, saya jadi sadar betapa terbatasnya pengetahuan saya, seorang manusia.Beda yang nyata antara manusia dan Sang Khalik adalah: Allah SWT. Maha tahu sedangkan manusia adalah makhluk sok tahu, mmmmmm…….!

Kembali kepertanyaan tadi. Beberapa waktu yang lalu, may be several months ago, saya membaca, entah baca buku atau sebuah page di internet, I completely forget about it, saya menemukan sebuah jawaban yang bisa diterima akal saya, but I am not sure on yours. Kenapa Allah SWT tidak memperlihatkan dirinya kepada manusia? Jawaban dari tulisan yang saya baca itu adalah KARENA ALLAH SWT MAHA PENGASIH DAN MAHA PENYAYANG. Lho! Kenapa begitu? lagi-lagi kenapa.

Menurut penulis (dengan bahasa saya sendiri, lupa copast), kalau lah saja Allah menampakkan diri-Nya atau setidaknya memperdengarkan suara-Nya, manusia tidak lah akan sanggup melihat wujud atau mendengarkan suara-Nya, karena keterbatasan indera manusia, dengan kata lain manusia akan celaka. Menurut penulis tadi (lupa namanya, semoga orangnya ga marah 🙂 kalau masih ngotot ingin melihat Allah, tidak usah repot-repot katanya. Sebelum melihat Pencipta alam semesta ini, penulis menantang pembaca untuk melihat cipataan-Nya. Sanggupkah Anda melihat langsung ke matahari? Ingat! Matahari adalah ciptaan-Nya, bahwa tentunya Sang Pencipta jauh lebih dahsyat dari ciptaan-Nya, bukan? Matahari yang kata para ahli berjarak lebih kurang 150 juta km dari bumi. Cahaya dan radiasinya, sebelum sampai ke bumi, telah direduksi terlebih dahulu, dengan perhitungan yang sangat-sangat teliti tentunya, sehingga manusia bisa hidup di bumi ini. Bagaima medan magnet bumi telah menyimpangkan radiasi cahaya matahari? Bagaima lapisan ozon telah mengurangi panas matahari. Tentunya hal ini telah dibahas oleh pakarnya. Saya sadar bahwa saya bukanlah orang yang tepat menjelaskannya. Saya yakin tidak ada satupun manusia menyanggupi tantangan tersebut. Apalagi melihat lansung ke matahari. Belum sempat mengedipkan mata kita sudah jadi abu.

Suatu saat saya pernah punya kesempatan memasuki lokasi tambang batubara di daerah Kalimantan Timur. Ketika jam istirahat saya melihat segeromolan orang memakai pakaian lengkap, sepatu safety model boot, celana jeans, baju kerja yang di bagian punggungya ada strip yang bisa memantulkan cahaya, safety helmet tentunya. Ada sesuatu bergelantungan di leher mereka, semua orang yang baru datang tadi memilikinya, bentuknya seperti earphone. Dengan luka-nya (luka = lugu-lugu kan***ng) saya bertanya ke orang yang duduk disamping saya. “orang yang barusan datang kerja dibagian apa ya, mas? Kok semuanya membawa earphone? Enak ya kerja bisa sambil dengarin musik”. Oh mereka itu? Mereka kerja di bagian peledakan, yang dibawa itu namanya earplug bukan earphone, ga bisa dengarin musik, itu buat pengaman biar telingga ga gampang rusak oleh bunyi ledakan dinamit” jawab orang yang duduk disamping saya, sambil bertanya “mas dari mana ya?” dari jawaban dan pertanyaan orang tadi dengan logat jawanya, saya yakin mas itu membatin “dasar katrok ndeso”. Bunyi dinamit saja harus pakai pelindung, apalagi bunyi bom atom dan apalagi ingin mendengarkan suara-Nya. Oke, itu masuk akal, ga usah pake lihat-lihat segala ataupun dengarih suara-Nya, kenapa saya tidak dikasih kesempatan, ya minimal bersalaman dengan-Nya. Bocah ini bandel juga ya! Sebelum kamu bersalaman dengan Allah, coba salaman dulu sama api, mau? Dan masih banyak penjelasan penulis di tulisannya itu, tapi yang saya ingat hanya itu, maklum memori saya sudah kepenuhan dengan hal-hal yang tidak penting. Mungkin harus sering-sering didefrag dan diinstall cc cleaner kali.

Setidaknya saya telah menemukan jawaban atas sesuatu yang mengganjal di hati saya selama ini. Tapi kok kaya ada bisikan di telinga kiri saya dan bodohnya saya mengamini bisikan tersebut. Allah itu kan maha kuasa, maha segalanya. Kenapa, duh kenapa lagi!, tidak menciptakan manusia dengan indera yang sanggup untuk melihat wujud-Nya, mendengarkan suara-Nya, dan merasakan fisik-Nya. Ho oh ya! Ga bakalan ada lagi kejahatan di muka bumi ini, karena manusia sadar dan yakin akan keberadaan Sang Khalik.
Apa iya?
Tiba-tiba ada suara bisikan di telingga kanan saya. suara tersebut dengan sejuknya melanjutkan kalimatnya. Akan ada suatu masa dimana manusia akan diberikan kesempatan untuk biasa bertemu dan melihat wujud-Nya. Pada masa itu semua manusia yang pernah hidup di muka bumi akan dikumpulkan di satu tempat yang sangat luas (pastinya lebih luas dari bumi).

Suara di Telinga kiri (suteki): kenapa harus menunggu, kenapa ga sekarang aja dikasih
Saya: please deh! jangan pakai pertanyaan kenapa, pusing nih
Suara di telinga kanan (suteka): dengar! Itulah rahasia penciptaan manusia, itulah alasan kenapa manusia di ciptakan dan ditempat di muka bumi ini.
Suteki: kenapa harus pakai rahasia-rahasian. Kenapa ga dikasih tau aja semuanya, gampangkan
Saya: iya, kaya musuhan aja, pakai rahasia-rahasia segala.
Suteka: itulah misi manusia di muka bumi, untuk menjawab semua pertanyaan itu. Ingat bahwa manusia itu dibekali dengan akal, supaya mereka bisa berpikir, bisa mengambil hikmah. Kalau manusia sudah memiliki semua kemampuan tadi, buat apa mereka ada di muka bumi ini?
Saya: buat apa coba?
Suteka: pernahkah kamu tahu rasa manis, sebelum kamu mengecap pahit. Kamu tak akan pernah merasa lapang kalau kamu belum merasa sempit atau bisakah kamu mengatakan bahagia kalau sebelumnya kamu belum pernah berkeluh kesah dengan penderitaan?
Suteki: Ok masuk akal, tapi kenapa harus manusia?
Saya: iya, kenapa harus manusia yang harus menderita, kenapa ga malaikat aja atau setan sekalian
Suteki: maksud loh?!
Suteka: saya maklum kamu bicara seperti itu. Saya hanya ingin mengingatkan kamu, kurangilah sifat keluh kesah mu itu, kamu hanya ingat akan derita mu saja, tapi pada saat bahagia mu, pernah kamu kamu ingat pada-Nya. Kemana kamu di momen-momen bahagia mu?
Suteki: objection your highness!
Saya: kaya sidang di amerika aja, pake objeksiyen segala
Suteki: dia telah menyimpang dari tema kita, saya ga setuju itu.
Suteka: ketika manusia hidup di muka bumi ini, mereka tidak dibiarkan begitu saja, sedangkan anak ayam saja dibimbing dulu sama induknya hingga mereka dewasa. Setelah itu induknya bilang EGP!
Saya: analoginya yang enak dong! Masa ayam?
Suteka: dari masa kemasa hingga sekarang manusia selalu dibimbing oleh-Nya melalui manusia-manusia pilihan, golongan kamu juga. Manusia hidup di muka bumi ini delengkapi dengan manualnya. Seberapa sering kamu baca manualnya?
Saya: manual? Kaya I-pad aja pakai manual segala.
Suteka: berapa sering kamu baca manual yang disertakan bersama kamu? Kitab suci yang kamu agungkan itu?
Saya: eh itu?! Ada sih, cumakan berbahasa Arab, penjual I-pad aja masuk penjara gara-gara tidak menyertakan manual berbahasa Indonesia.
Suteki: saya setuju! Kenapa Bahasa Arab, kenapa tidak pakai bahasa yang lain, kenapa harus banyak bahasa di muka bumi ini, satu bahasakan lebih enak. Saya yakin, tidak akan ada lagi kasus salah tafsir ketika membaca manual itu.
Saya: betul, betul, betul!
Suteka: ternyata kamu masih belum megerti ya?
Suteki: makanya dijelasin donk! Ah, macam mana pula kau ini!
Suteka: kamu sudah besar, sudah dewasa, kamu cari jawabannya sendiri dengan begitu pasti akan lebih paham dan mengerti. Saya akan selalu ada di samping mu, itu kalau kamu ingat akan keberedaan saya.
Saya: kaya sekolahan aja, ada tugas. Saya kan repot, pagi-pagi harus bangun terus pergi kerja, pulang kerja cape, terus tidur dan bangun lagi, kerja lagi.
Suteka: kan ada waktu libur.
Suteki: waktu libur itu hanya buat melepas kepenatan, masa disuruh cari jawaban. Tulang rusuknya yang hilang aja belum ketemu, masa dikasih tugas lagi, huh! Ga peka sekali ni orang.
Saya: tulang rusuk? Jadi bingung!?
Suteki: ISTRI dodol!
Suteka: yang disuruh itu kan mencari yang ada. Kalau disuruh cari yang tidak ada itu baru repot. Katakanlah kamu sudah dapat semua, anak, istri dan jabatan, akan kah kamu mau memikirkan ini? Jangan-jangan ketika telah mendapatkan semua yang kamu ingini tersebut, nikmat yang lain telah mulai berkurang, penglihatan sudah tidak seterang dulu lagi, daya ingat sudah menurun, nafas sudah satu-satu. Apakah kamu akan menunggu masa itu? Iya kalau kamu dikasih umur segitu. Bagaimana ka……….
Suteki: alah! Jangan didengarkan, dia hanya menakut-nakuti saja
Suteka: tidak baik menunda-nunda pekerjaan yang baik, karena umur manusia adalah misteri. Kamu harus ……
Suteki: ah teori aja itu, sekarangkan banyak dokter, teknologi canggih, apalagi ayo. Nikmati hidup ini, gapailah cita-cita mu, jangan dengarkan dia.
Suteka: kamu lupa nasehat presiden pertama di negeri mu ini?
Suteki: ga konsisten, suka pindah topic, ciri-ciri pecundang, cuih!
Saya: apa itu?
Suteka: Jasmerah, Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Apakah kamu tidak pernah membaca sejarah. Orang yang tercatat dalam sejarah itu bukanlah orang yang hidup terikat dengan rutinitas, tapi orang yang membuat membuat gebrakan, dan bahkan mereka juga pernah dicap gila (pernah=tidak selamanya).
Suteki: kalau mau jadi orang terkenal mah gampang boi. Kamu ingat ga ceramah almarhum KH. Zainuddin MZ. Kamu kencingi aja sumur zam-zam.
Saya: sumur zam-zam kan jauh, di Arab sana, saya kan ga punya uang. Kalau pun ada ga bakalan saya jauh-jauh datang ke sana cuma untuk mengencinginya. Mending saya melaksanakan ibadah umbrah atau naik haji sekalian.
Suteki: kan contoh, begini aja, kamu bunuh artis. Tapi terkenalnya cuma sebentar. Kalau kamu memang ngotot nama mu tercatat dalam sejarah, kamu ingat kasus John F keneddi bukan?
Saya: enak saja, gila kali.
Suteka: bagus, berarti akal mu masih berfungsi dengan baik.
Saya: maksud elloh?
Suteka: ibarat sebuah industry, akal manusia adalah pabrik. SOP-nya adalah Kitab suci yang kita sebut dengan buku manual tadi. Ditambah dengan penjelasan-pejelasan dari yang bangun pabrik melalui wakilnya/Rasul-Nya. Inputnya adalah semua yang ada di alam semesta ini. Kalau kamu merasa tidak puas, kamu bisa juga menjelajahi angkasa. Sedangkan produk atau output-nya nanti adalah jawaban dari pertanyaan kenapa kamu itu. Kalau kamu tidak pernah mengikuti SOP-nya, apalagi tidak pernah membaca manualnya, hanya mengandalkan akal saja, tunggu saja kehancurannya.
Suteki: ni orang makin geblek aja ya!
Suteka: kamu diciptakan tidak hanya dibekali akal saja, tapi juga ada nafsu. Kamu harus menyeimbangkannya. Jangan pernah akal di kangkangi oleh nafsu.

Suteki: wuaaaaaah! Ngantuk dengarin ceramah makhluk sok tau ini, kaya orang yang punya nafsu aja.
Seteka: masih mending saya, punya akal, kamu? Hanya nafsu yang ada di otak mu.
Suteki: tapi saya kan leb……….
Saya: ENOUGH! Leave me alone, please……!
Suteka: Okay! I’ve gotta go, remember! I’ll always be at your side, the right one, of course! Just ignore the other one.
Suteki: hellooow, you are pointing your finger at me, show your politeness, dear friend!
Saya: pleaaaaaaaaase! I need a little room to breathe, okay! Thank you.

Banyak sekali pertanyaan yang diawali dengan kata kenapa, yang berkecamuk di benak saya. seberapa banyak waktu yang saya luangkan untuk mencari jawabannya. Selama ini saya terjebak dengan rutinitas, apakah seperti itu harusnya kita hidup? Sungguh sangat membosan. Apakah ini yang dikatakan para motivator dengan istilah comfort zone? Berikut adalah beberapa pertanyaan yang sering mengiang-ngiang di telinga saya:

Kenapa saya dilahirkan di muka bumi?
Kenapa itu dilarang, tapi kok tetap diciptakan?
Kenapa harus susah dahulu, kenapa tidak langsung bahagia saja?
Kenapa harus ada kejahatan? Kenapa tidak diciptakan saja kebaikan?
Kenapa harus ada yang menderita? Kenapa tidak semua orang saja yang bahagia?
Kenapa harus begini, kalau begitu juga diciptakan?
Kenapa diciptakan setan yang kasat mata untuk menyesatkan manusia?
Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Masih banyak sebenarnya pertanyaan dengan diawali dengan kata kenapa, mungkin karena saking emosinya jadi lupa. Sebelumnya saya pernah mendengarkan ceramah ataupun membaca buku, yang menyinggung pertanyaan saya itu. Tapi tetap saja saya belum puas dengan uraianya, apa mungkin karena saya hanya mengandalkan akal?

Advertisements

~ by dentjikoen on 10/09/2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: