Back to School

Libur telah tiba, libur telah tiba! Hore! Hore! Horrre!
Simpanlah tas dan bukumu
lupakan keluh kesah mu
Libur telah tiba, libur telah tiba! Hati ku gembira

Begitulah kira-kira penggalan lagu yang dinyanyikan oleh Tasya dengan judul Libur Telah Tiba. Lagu menggambarkan kegembiraan anak-anak menyambut masa liburan panjang, setelah menyelesaikan ujian dengan hasil yang beragam tentunya. Ada yang mendapat ranking, ada yang biasa-biasa saja. Bahkan ada yang tinggal kelas atau tidak lulus ujian nasional. Tapi apapun hasilnya, liburan ini adalah waktunya untuk melupakan semua rutinitas yang berhubungan dengan sekolah, waktunya untuk melonggarkan saraf-saraf yang tegang karena baru saja melewati Ujian Nasional atau ujian kenaikan kelas.

Ternyata tidak semua anak-anak ini yang bisa melupakan hal-hal yang berbau sekolah begitu saja. Bagi mereka yang baru saja merayakan keberhasilan melewati kokohnya ‘benteng Ujian Nasional’, mereka pun masih harus melewati satu lagi tantangan, yaitu persaingan untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Ibarat lepas dari kandang harimau, mereka sekarang harus melewati kadang buaya. Semua anak dan juga orang tua pasti mempunyai mimpi untuk bisa melanjutkan pendidikan di sekolah-sekolah favorit atau sekolah unggulan ataupun ke perguruan tinggi favorit.

Dari pengamatan saya ada 4 (empat) kelompok anak-anak yang akan bertarung di tantangan ke dua ini, yaitu:

    *Anak pintar, orang tua kaya (kondisi paling ideal),
    Anak yang masuk dalam kelompok ini, mereka sangat beruntung karena mereka punya banyak pilihan. Masuk sekolah negeri bisa, swata juga gampang. Pokoknya anak dalam kelompok bisa menikmati liburan mereka kali ini tanpa harus memikirkan ini-itu, karena bekal mereka sudah lebih dari cukup.

    *Anak pintar, orang tua pas-pasan dan bahkan tak mampu (masih ada jalan)
    Walaupun agak sulit, tapi anak yang termasuk dalam kelompok ini masih punya pilihan. Anak-nak yang berprestasi masih memiliki kesempatan lewat jalur beasiswa.

    *Anak dengan kemampuan rata-rata/di bawahnya, orang tua kaya (masih ada jalan),
    Kalaupun anak yang masuk termasuk dalam kelompok ini tidak lolos seleksi sekolah unggulan, mereka masih punya pilihan sekolah swasta yang walaupun bukan unggulan, tapi memiliki fasilitas lengkap.

    *Anak dengan kemampuan rata-rata/di bawahnya, orang tua pas-pasan dan bahkan tak mampu.

Kebanyakan anak-anak yang putus sekolah berasal dari kelompok ini, tidak tertutup kemungkin juga berasal dari kelompok no.2. Orang tua mereka hanya bisa berkata, “Mudah-mudahan kamu bisa diterima di sekolah negeri ya nak, kalau kamu tidak diterima, bapak tidak sanggup menyekolahkan mu di Swasta. Kamu bantu-bantu bapak saja. Lumayankan? dari pada menganggur”. Anak yang masuk kelompok ini termasuk anak yang kurang beruntung, karena mereka tidak memiliki pilihan. Padahal anak ini kalau didik dengan cara yang tepat, ada kemungkinan mereka bisa menjadi anak di kelompok no.2.

Apa sih standar yang menjadi parameter untuk menentuakan kemampuan anak-anak tersebut? Apakah Ujian Nasional? Untuk saat ini jawabannya, betul Ujian Nasianal. Katakanlah anak dengan nilai rata-rata UN diatas 8,0 dianggap anak pintar. Sedangkan anak yang memiliki nilai rata-rata antara 8,0-6,0 adalah memiliki kemampuan rata-rata dan anak-anak yang memiliki nilai dibawah 6,0 memiliki kemampuan di bawah rata-rata. Tapi saya yakin bahwa tidak semua anak dengan nilai rata-rata UN di bawah 6,0 adalah anak dengan kemampuan dibawah rata-rata atau dengan bahasa vulgarnya disebut anak bodoh. Banyak yang mempengaruhi hasil ujian mereka, faktornya bisa jadi saat ujian dan sebelum ujian. Saat ujian misalnya, ada yang sakit, ada masalah di keluarga, dll. Faktor sebelum ujian, bisa jadi mereka memang belum paham apa yang telah diajarkan.

Banyak faktor yang membuat anak-anak tidak memahami materi yang diajarkan, salah satunya ketidak cocokan cara guru mengajar dengan kemampuan anak-anak menyerap materi tersebut. Menurut psikolog (saya lupa judul buku dan nama pengarangnya, maklum buku pinjaman) ada tiga tipe anak dalam memahami pelajaran yang diberikan, yaitu:

  1. Audio (Mendengar)
    Anak ini biasanya memiliki imajinasi yang tinggi, sehingga dengan hanya mendengarkan penjelesan mereka bisa langsung memahami materi yang diajarkan.
  2. Visual (Melihat)
    Dengan hanya melihat atau membaca, anak tipe ini sudah bisa menangkap materi yang diajarkan. Cukup dengan memberikan beberapa contoh soal, mereka sudah bisa memahami maksud dari materi yang diajarkan. Biasanya anak-anak ini memiliki daya konsentrasi tinggi.
  3. Kinetik (gerak)
    Dalam mengajar anak dengan tipe ini, harus dilengkapi dengan alat peraga, dan bahkan mereka ikut merasakan sendiri.

Kebanyakan sekolah, terutama sekolah negeri, cara mengajar gurunya lebih menguntunkan anak dengan tipe audio saja. Bagaimana anak dengan tipe lain?

Sangat miris kita melihat ataupun membaca berita guru-guru mrngajarkan muridnya untuk curang saat ujian, mereka seperti sopir angkot yang mengejar setoran. Mereka, para oknum guru, yang menyandang gelar Pahlawan tanpa Tanda Jasa, menghalalkan segala cara agar siswanya bisa lulus Ujian Nasional. Harusnya para guru ini mencari akar permasalahan, penyebab anak-anak susah memahami bahan ajaran. Bisa jadi akar permasalahannya dari ketidak cocokan tipe anak didik dengan cara guru tersebut mengajar. Alangkah sangat disayangkan anak-anak yang harusnya memiliki nilai yang tinggi, karena kesalahan cara mengajar, mereka jadi susah memahami. Akhirnya nilai ujian mereka jeblok. Parahnya lagi mereka sudah terlanjur mencap diri mereka sebagai anak yang biasa-biasa saja dan bahkan bodoh. Mereka pesimis hingga mengubur dalam-dalam mimpi yang telah mereka gantung.

Sudah waktunya anak-anak masuk ke sekolah dilakukan tes psikologi untuk mengetahui tipe-tipe mereka. Anak dengan kemampuan Audio, dimasukkan ke kelas audio, begitu juga untuk tipe lain. Sehingga proses belajar-mrngajar lebih optimal. Bisa jadi anak yang mendapatkan hasil UN biasa-biasa saja atau bahkan dibawah rata, adalah akibat ketidak cocokan mereka dengan cara guru yang mengajar. Bisa jadi mereka adalah anak dengan tipe Kinetik, sedangkan disekolah guru cuma menagajar dengan hanya menerangkan di depan kelas tanpa adanya alat peraga. Kebanyakan sekarang pembagian lokal berdasarkan nilai ujian. Misalnya anak dengan nilai diatas rata-rata ditempatkan di kelas A, sisanya dibagi rata di kelas B, C, dst. Suatu saat kita berharap kalau bertanya pada anak kita, ponakan, ataupun tetangga, “udah kelas berapa sekarang kamu Nak?”. “saya kelas 7 lokal Audio, Pak”. Kita tentunya tidak mau mendengar anak-anak menjawab dengan rendah diri “saya kelas 7 lokal C, Pak”.

Ada cerita menarik tentang tes masuk sekolah dasar. Ada sebuah sekolah favorit – sekarang jadi sekolah unggul karena mereka cuma menerima anak-anak dengan kemampuan di atas rata-rata – mengadakan tes masuk ke sekolah mereka. Saya jadi berpikir, kira-kira materi tesnya apa ya? Kalau tes masuk Perguruan Tinggi sudah pasti materi ujiannya adalah pelajaran di SMA. Kalau masuk Sekolah Dasar apa ya? Apa tes melukis? Menyanyi? Menari? Atau mungkin sekolah ini telah menerapkan sistem pembagian kelas berdasarkan tipe anak (audio, visual dan kinetik)?
Ternyata, setelah saya tanya ke orang tua yang anaknya juga merupakan pelamar ke sekolah tersebut, tes yang diberikan adalah tes membaca dan berhitung. Sungguh jauh dari apa yang saya pikirkan sebelumya. Bisa dibayangkan, anak-anak mau masuk sekolah dasar sudah dites membaca dan berhitung. Apa Taman kanak-kanak sekarang sudah ada materi membaca dan berhitung? Sepengetahuan saya, atau mungkin saya sudah ketinggalan jaman, Taman Kanak-kanak adalah arena bermain. Konsep dasar di taman kanak-kanak belajar sambil bermain. Kalaupun diajar membaca hanyalah sebatas mengenal huruf, tidak sampai harus bisa membaca. Begitu juga dengan berhitung, hanya sebatas pengenalan angka-angka saja.
Sekolah ini sepertinya tidak sadar atau tidak peduli dengan efek dari kebijakan mereka. kebijakan ini akan berdampak terhadap pola pengajaran di taman kanak-kanak di sekitar sekolah tersebut. Otomatis TK-TK yang ada di lingkungan sekolah tersebut akan mengubah kurikulum dengan memasukan pelajaran membaca dan berhitung. Lulusan TK ini diharapkan sudah bisa membaca dan berhitung agar bisa diterima di Sekolah Dasar favorit tadi. Semakin banyak lulusan TK ini di terima di Sekoalah dasar favorit tadi, otomatis di tahun ajaran berikutnya TK ini juga akan berubah menjadi TK favorit. Hmmmmm…..!
Kasihan anak-anak, hanya gara-gara kebijakan keliru, mereka kehilang masa bermain di taman kanak-kanak. Suatu hal yang kita takutkan adaalah anak-anak akan cepat merasa jenuh, bosan hingga akhirnya malas masuk sekolah hingga prestasinya menurun. Pastinya orang tua akan menyalahkan anak mereka. Lagi-lagi anak yang jadi korban.

Kalau menurut saya, dari pada diajarkan membaca atau berhitung, di Taman Kanak-kanak lebih bagus diajarkan bahasa asing. Kenapa? Dari pengamatan saya terhadap anak yang tumbuh di keluarga yang merantau, kalau orang tua di rumah membiasakan anak di rumah memakai bahasa ibu, bahasa asal mereka, sedangkan anak tersebut juga bergaul dilingkungan yang menggunakan bahasa yang berbeda, maka anak tersebut bisa menguasai kedua bahasa tersebut. Pada usia empat tahun mereka sudah bisa berbicara dengan dua bahasa berbeda. Kalaulah saja di TK sudah di kenalkan bahasa inggris, misalnya. Saya yakin di tingkat SMP bereka sudah biasa berbahasa Inggris. Waktu saya masih sekolah dulu, bahasa asing yang saya pelajari pertama adalah Bahasa Inggris, itupun saya pelajari di tingkat SMP. Saya baru bisa memahami apa yang dijarkan di SMP tersebut setelah saya duduk di bangku kelas 2 SMA, sedangkan waktu saya belajar di sekolah tak sampai 2 tahun lagi.
Bahkan saya pernah baca di detikhealth.com, saat dalam kandungan pun orang tua sudah dianjurkan mulai mengajak anak-anak berkomunikasi dengan dua bahasa yang berbeda, guna meransang otak yang berhubungnan dengan komunikasi tersebut sehingga setelah lahir anak tersebut tidak mengalami kesulitan mempelajari bahasa asing. Contoh lain, ketika seorang teman mengajak keluarga pindah ke Inggris, karena ada tugas belajar. Anaknya yang berumur lima tahun, hanya dalam hitungan bulan, anaknya sudah lancar berbahasa Inggris. Jadi pelajaran bahasa asing memang sebaiknya mulai sejak usia dini. Lebih efektif dari pada diajarkan membaca dan berhitung.

Menurut saya sudah saatnya pemerintah mengubah pola ajar di sekolah-sekolah, menertibkan sekolah yang mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang keliru. Sudah saatnya di sekolah-sekolah ada psikolog yang benar-benar ahli dalam memahami karakter anak-anak didik. Saya sangat setuju dengan adanya standar nilai untuk lulus UN, kalau semua sudah dibenahi, merupakan hal wajar kalau suatu saat pemerintah menetapkan batas kelulusan, minimal nilai rata-rata UN adalah 7,0. Kita berharap dunia pendidikan Indonesia seperti tahun 1970-an. Banyak negara tetangga yang belajar ke Indonesia. Kalau pun Indonesia masih mengirim TKI/TKW ke luar negeri, minimal yang dikirim adalah tenaga pengajar.

Advertisements

~ by dentjikoen on 04/07/2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: